Selasa, 08 Oktober 2013

ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS


 By: Vinsen Bate
 
A.    Konsep Dasar Medis
1.        Defenisi
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung. Secara hidropaotologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai di klinik penyakit dalam pada umumnya.
Secara garis besar, gastritis dapat dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan pada:
 1) manifestasi klinis,
2) gambaran histologi yang khas,
3) distribusi anatomi, dan
4) kemungkinan patogenesis gastritis, terutama gastritis kronik.
Didasarkan pada manifestasi klinis, gastritis dapat dibagi menjadi akut dan kronik. Harus diingat bahwa walaupun dilakukan pembagian menjadi akut dan kronik, tetapi keduanya tidak saling berhubungan. Gastritis kronik bukan merupakan kelanjutan gastritis akut.

Gastritis akut adalah proses peradangan jangka-pendek yang terkait dengan konsumsi agen kimia atau makanan yang mengganggu dan merusak mukosa gastrik. Agen semacam itu mencakup bumbu, rempah-rempah, alkohol, obat-obatan, radiasi, kemoterapi, dan mikro-organisme infektif.

Gastritis kronik terbagi dalam tipe A dan B. Gastritis tipe A mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi anti-bodi. Anemia Pernisiosa berkembang dengan proses ini. Sedangkan gastritis tipe B lebih lazim. Tipe ini dikaitkan dengan infeksi bakteri Helicobacterpylori, yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.
Gastritis dapat juga dibagi menjadi akut dan kronik, harus diingat bahwa walaupun dilakukan pembagian menjadi akut dan kronik, tetapi keduanya tidak sering berhubungan. Gastritis kronik bukan merupakan kelanjutan gastritis akut.
2.      Etiologi
·         Indisekresi diet → makan terlalu banyak cepat, terlalu berbumbu, makanan yang terinfeksi
·         Infeksi → bakteri helicobactery pylory
·         Aspirin dan obat AINS → merusak mukosa lambung
·         Alkohol → dapat mengikis mukosa pada dinding lambung
·         Terapi radiasi → luka pada lambung.
3.      Pathofisiologi
Pada gaster yang terjadi peradangan pada lapisan mukosa terjadi kemerahan, edema dan meradang, biasanya peradangan ini terbatas pada mukosa saja. Apabila sering mengkonsumsi bahan-bahan yang bersifat iritasi maka dapat menyebabkan perdarahan mukosa lambung, juga dapat menimbulkan kerak yang disertai reaksi inflamasi. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan terjadi peningkatan sekresi asam lambung serta dapat meningkatkan jumlah asam lambung. Keadaan demikian dapat menyebabnkan iritasi yang lebih parah pada mukosa lambung akibat hipersekresi dari asam lambung.


4.      Pohon Masalah
Zat kimia / makan yang merangsang
 Produksi mucus sel epitel kolumner
Vasodilatasi sel mukosa gaster
Produksi HCL
/                 \
Anoreksia                             Nyeri
                                              ↓
                                               Kontak HCL dengan
                                                mukosa gaster
                                         ↓
                  Erosi pada mukosa lambung
                                               ↓
                                                Perdarahan
5.      Manifestasi Klinis
Sindrom dyspepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematonesis dan melena. Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnese lebih dalam terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu.
A. Gastritis Akute.
a. Gastritis Akute Eksogen Simple
Ø  Nyeri epigastrik mendadak.
Ø  Nausea yang di susul dengan vomitus.
Ø  Saat serangan pasien berkeringat, gelisah, sakit perut, dan kadang disertai panas serta tachicardi.
Ø  Biasanya dalam 1-2 hari sembuh kembali.
b. Gastritis Akute Eksogen Korosiva
·         Pasien kolaps dengan kulit yang dingin.
·         Tachicardi dan sianosis.
·         Perasaan seperti terbakar, pada epigastrium.
·         Nyeri hebat / kolik.
c. Gastritis Infeksiosa Akute
·         Anoreksia
·         Perasaan tertekan pada epigastrium.
·         Vomitus.
·         Hematemisis.
d. Gastritis Hegmonos Akute :
·         Nyeri hebat mendadak di epigastrium - Neusia.
·         Rasa tegang pada epigastrium - Vomitus.
·         Panas tinggi dan lemas - Tachipneu.
·         Lidah kering sedikit ekterik - Tachicardi
·         Sianosis pada ektremitas - Diare.
§  Abdomen lembek - Leukositosis
B. Gastritis Kronis, terdiri dari :
a. Gastritis Superfisialis.
·         Rasa tertekan yang samar pada epigastrium.
·         Penurunan BB.
·         Kembung / rasa penuh pada epigastrium.
·         Nousea.
·         Rasa perih sebelun dan sesudah makan.
·         Terasa pusing.
·         Vomitus.
b. Gastritis Atropikan.
·         Rasa tertekan pada epigastrium. - Anorexia.
·         Rasa penuh pada perut. - Nousea.
·         Keluar angin pada mulut. - Vumitus.
·         Mudah tersinggung. - Gelisah.
·         Mulut dan tenggorokan terasa kering.
c. Gastritis Hypertropik Kronik
-          Nyeri pada epigastrium yang tidak selalu berkurang setelah minum susu.
-          Nyeri biasanya timbul pada malam hari.
-          Kadang disertai melena
6.      Penatalaksanaan medis
o   Menghindari alcohol dan makanan yang merangsang sampai gejala berkurang
o   Diet mengandung gizi bila pasien mampu makan melalui mulut
o   Berikan cairan intra vena
o   Bila akibat asam → menetralisir dengan antasida (aluminium hodroksida)
o   Bila akibat alkali → menetralisis alkali dengan jus lemon encer dan cuka encer
o   Bila korosi luas atau berat → hindari emetic dan lavage →bahaya perforasi
o   Modifikasi diet, istirahat, reduksi stress, dan farmakologi.
7.      Pemeriksaan Diagnostik
·         Pemeriksaan Analisa Gaster
·         Pemeriksaan Angiogarfi
·         Pemeriksaan Amilase Serum
·         EGD (Esofagogastriduodenoskopy)
·         Minum Barium dengan Foto Rontgen
B.     Konsep Dasar Keperawatan
1.      Pengkajian
·         Aktifitas/istirahat
Gejala     : Kelemahan, kelelahan
Tanda     : Takikardia, takipnea, hiperventilasi (respon terhadap aktifitas)
·         Sirkulasi
               Gejala     :Hipotensi (termasuk postural).Takikardia, distripnea              (hipovolemia/hipoksemia)Kelemahan atau nadi perifer Pengisian kapiler lemah atau berlahan (vasokonstriksi) Warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah)Kelemahan kulit atau membran mukosa


·         Integritas Ego
Gejala     : Faktor stress akut atau kronis (keungan atau hubungan kerja) perasaan         tak berdaya
Tanda     : Ansietas, misalnya : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
·         Eliminasi
Gejala     :Riwayat perawatan dirumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastroenteritis (GI) atau masalah yang berhubungan dengan Gi.
Tanda     :Nyeri tekan abdomen, istensi bunyi usus sering hiperaktif selam perdarahan, Karakteristik feses, diare darah warna  gelap, kecoklatan atau kadang-kadang warna cerah berbusa, bau busuk (steatorea). Konstifasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida). Haluaran urine : menurun, pekat.
·         Makanan dan cairan
Gejala     :Anoreksia, mual, muntah, (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik, bagian luar yang berhubungan dengan luka duodenal). Cegukan nyeri ulu hati, sendawa, bau asam/muntah
Tanda     :Muntah, warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).

·         Neurosensi
Gejala     : Rasa berdenyut, pusing atau sakit kepala karna sinar, kelemahan. Tingkat kesadarandapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi/bingung, samapi pingsandan koma (tergantung pada volume sirkulasi atau oksigenasi).
·         Nyeri/kenyamanan
Gejala     : Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dpat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan atau distress samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri epigastrum kiri samapai tengah atau menyebar kepunggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang hilang dengan antasida (ulusgaster). Nyeri epigastrum kiri sampai menyebar kepunggung terjadi ± 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal) tak ada nyeri (varisis esophageal ata gastritis).
Tanda     : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.
·         Keamanan
Gejala     : Alergi terhadap obat atau sensitive, misalnya : ASA
Tanda     : Peningkatan suhu, spisider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis atau hipertensi portal).
·         Penyuluhan/pembelajaran
Gejala     : Adanya penggunaan obat resep atau dijual bebas  yang mengandung ASA, alcohol, steroid. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Animea, trauma kepala, flu usus, episode muntah berat.


2.    Diagnosa Keperawatan
 DX I      : Kekurangan volume cairan b/d perdarahan, mual, muntah dan anoreksia d/d pucat, berkeringat, gelisah, perubahan mental.
K/H        : Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal, tanda vital stabil, membrane mukosa lembab dan turgor mukosa baik.

Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat karakteristik muntah/diare







-          Awasi tanda vital




-          Awasi masukan dan haluaran di hubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah/cairan melaui muntah, penghisapan gaster/lavase dan difekasi.
-          Pertahankan tirah baring, mencegah muntah dan tegangan pada defekasi. Jadwlkan aktifitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan.
-          Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.


Kolaborasi :
-          Berikan cairan/darah sesuai indikasi


-          Berikan obat sesuai indikasi, ranitidine (zantac), diatidine (acid).

-          Membantu dalam membedakan penyebab distress gaster. Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka, kandunga pekal menunjukkan obstuksi usus, darah merah cerah manandakan adanya atau perdarahan arterial akut.

-          Perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan perkiraan kasar kehilangan dara, misalnya : TD < > 110 diduga 25% penurunan volume atau ± 1000 ml.

-          Memberikan pedoman untuk penggantian cairan.



-          Aktivitas/muntah meningkatkan tekanan intra abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut.

-          Mencegah reflex gaster pada aspirasi antasida diman dapat menyebabkan komplikasi paru serius.


-          Penggantian cairan tergantung pada derajat hivopolemia dan hanya perdarahan (akut atau kronis).
-          Penghambatan histamine H2 menurunkan histamine produksi gaster. Antasida (misalnya : ampojd, Maalox, Mylanta, piopan).
-          Dapat digunakan untuk mempertahankan pH gaster pada tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk menurunkan resiko perdarahan ulang. Antemetik (misalnya : metoklopramid/regtan. Proglorperazine/campacine.
-          Menghilangkan mual dan mencegah muntah.




DX II     :Resiko tinggi kekurangan perpusi jaringan b/d hivopolimea d/d sakit kepala, pucat, berkeringat, TD rendah.
K/H     :Mempertahankan perkusi jarngan dengan bukti tanda vital stabil, nadi periver teraba.
Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat haluaran dan jenis berat urine



-          Catat laporan nyeri abdomen, khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu.




-          Observasi kulit untuk pucat, kemerahan, pijat dengan minyak, ubah posisi dengan sering.

Kolaborasi :
-          Berikan oksigen tambah sesuai indikasi.

-          Berikan cairan IV sesuai indikasi.

-          Penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia/gagal ginjal, dimenifestasikan dengan penurunan keluaran urine.
-          Nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek buffer darah, nyeri berat berlanjut  atau tiba-tiba dapat menunjukkan  iskemia sehubungan dengan terapi vasokinstriksi.

-          Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan resiko kerusakan kulit.



-          Mengobati hifoksemia  dan asidosis laktat selam perdarahan akut.

-          Mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi.

DX III    :Ansietas/ketakutan b/d perubahan status kesehatan, ancaman kematian d/d pasien gelisah.
K/H        :Menunjukan rilek dan laporan terhadap ansietas menurun sampai tinggkat yang dapat di tanggani.
Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Awasi respons fisologis misal : Takipnea, palpitasi, pusing, sakit kpala, ensasi kesehatan.

-          Dorongan pernyataan takut dan ansietas, berikan ompan balik
-          Berikan informasi akurat



-          Berikan lingkungan tenang untuk istirahat



-          Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien

-          Tunjukkan tehnik relaksasi



-          Dapat menjadi indikatif drajad takut yang di alami pasien tetapi dapat juga berhubungandengan kondisi pisik/ status sok.
-          Membuat hubungan trapeutik

-          Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan dan ansietas yang tidak perlu tentang ketidaktahuan.
-          Memeindahkan pasien dari steresor luar meningkatkan relaksi, dapat meningkatkan keterampilan koping.


-          Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi sorang diri
-          Belajar cara untuk rilek dapat membantu menurunkan takut dan ansietas

DX IV : Nyeri ( Akut / kronis ) b/d luka bakar kimia pada mukosa lambung, rongga oral d/d pasien meringis.
k/h          :Menyatakan nyeri hilang menunjukan postur tubuh rilek dan mampu tidur atau istirahat dengan tepat.

Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat keluhan nyeri ternasuk lokasi, lamanya, intensitas (0-10)





-          Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
-          Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien.




-          Bantu latihan rentang gerak aktif/pasif

-          Berikan perawatan oral  sering dan tindakan kenyamanan, misalnya : pijatan punggung, perubahan posisi


Kolaborasi :
-          Berikan obat sesuai indikasi, misalnya : antasida


-          Antikolinergic (misalnya : baladonna, atropia)

-          Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gelisah nyeri pasien sebelumnya diman dapat membantu mendiagnosa, etiologi perdarahan dan terjadinya konflikasi

-          Membantu dalam membuat diagnose dan kebutuhan terapi

-          Makan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster, makan sedikit mencegah distensi dan haluan gastria

-          Menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri/ketidaknyamanan
-          Nafas bau karena tertahannya secret mulut menimbulkan tidak nafsu makan dan dapat menimbulkan mual


-          Menurunkan keasaman gaster dengan absorbs atau dengan menetralisir kimia

-          Diberikan pada waktu tidur untuk menurunkan notilitas gaster, menekan produksi asam, memperlambat kekosongan gaster dan menghilangkan nyeri rokturnal.



















DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Charles, J.Reeves, dkk. 2001. Buku 1 Keperawatan Medikal Bedah Ed. I. Salemba Medika. Jakarta.
Bakta, I Made, dkk.(2002). Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta:
EGC.

Doengoes, Marilyn E. dkk. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Grace, Pierce & Borley Neil. (2007). At A Glance : Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta : Erlangga.

Misnadiarly. (2009). Mengenal Penyakit Organ Cerna: Gastritis (Dyspepsia atau maag), Infeksi Mycobacteria pada Ulser Gastrointestinal. Jakarta: PustakaPopuler Obor.

HIPOTESIS DAN PERTANYAAN DALAM PENELITIAN

 METODOLOGI RISET
by: Vinsensius Bate

HIPOTESIS DAN PERTANYAAN DALAM PENELITIAN

A.    Hipotesis
1.      Pengertian Hipotesis Dalam Penelitian.
Hipotesa berasal dari penggalan kata ”hypo” yang artinya ”di bawah” dan thesa” yang artinya ”kebenaran”, jadi hipotesa yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia menjadi hipotesa dan berkembangan menjadi Hipotesa. Pengertian Hipotesa menurut Sutrisno Hadi adalah tentang pemecahan masalah. Sering kali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan. Dari kedua pernyataan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis adalah suatu dugaan yang perlu diketahui kebenarannya yang berarti dugaan itu mungkin benar mungkin salah.
2.      Jenis-jenis Hipotesa
Menurut Suharsimi Arikunto, jenis Hipotesa penelitian pendidikan dapat di golongkan menjadi dua yaitu :
a.       Hipotesa Kerja, atau disebut juga dengan Hipotesa alternatif (Ha). Hipotesa kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y,  atau  adanya perbedaan antara dua kelompok
b.      Hipotesa Nol (Null hypotheses) Ho. Hipotesa nol sering juga disebut Hipotesa statistik,karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Bertolak pada pemikiran diatas dapat penulis kemukakan bahwa dalam  penelitian ini penulis mengajukan hipotesis kerja dan hipotesis nihil (nol).

3.      Contoh Hipotesa yang diajukan dalam penulisan penelitian.
a.       Hipotesis Kerja (H1)  ” Pembelajaran Matematika dengan Penerapan Model Sinektiks lebih  efektif dibandingkan dengan pembelajaran matematika tanpa Penerapan  Model Sinektiks Terhadap Proses Belajar Bidang Studi Matematika Sub Pokok Bahasan Persamaan Linear ”.
b.      Hipotesis Nihil (H0) ” Pembelajaran Matematika dengan Penerapan Model Sinektiks tidak efektif dibandingkan dengan pembelajaran matematika tanpa Penerapan Model Sinektiks Terhadap Proses Belajar Bidang Studi Matematika Sub Pokok Bahasan Persamaan Linear ”.
4.      Karakteristik Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal. Hal – hal tersebut diantaranya
a.       Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
b.      Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel
c.       Hipotesis harus dapat diuji
d.      Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
e.       Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
Berikut ini beberapa penjelasan mengenai Hipotesis yang baik :
a.       Hipotesis harus menduga Hubungan diantara beberapa variable
Hipotesis harus dapat menduga hubungan antara dua variabel atau lebih, disini harus dianalisis variabel-variabel yang dianggap turut mempengaruhi gejala-gejala tertentu dan kemudian diselidiki sampai dimana perubahan dalam variabel yang satu membawa perubahan pada variabel yang lain.

b.      Hipotesis harus Dapat Diuji
Hipotesis harus dapat di uji untuk dapat menerima atau menolaknya, hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan data-data empiris.
c.       Hipotesis harus konsisten dengan keberadaan ilmu pengetahuan
Hipotesis tidak bertentangan dengan pengetahuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam beberapa masalah, dan terkhusus pada permulaan penelitian, ini harus berhati-hati untuk mengusulkan hipotesis yang sependapat dengan ilmu pengetahuan yang sudah siap ditetapkan sebagai dasar. Serta poin ini harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk memeriksa literatur dengan tepat oleh karena itu suatu hipotesis harus dirumuskan bedasar dari laporan penelitian sebelumnya.
d.      Hipotesis Dinyatakan Secara Sederhana
Suatu hipotesis akan dipresentasikan kedalam rumusan yang berbentuk kalimat deklaratif, hipotesis dinyatakan secara singkat dan sempurna dalam menyelesaikan apa yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan hipotesis tersebut.
5.      Menguji hipotesis
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis , apakah harus menerima atau menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk mencari kebenaran.
6.      Kriteria penyusunan hipotesis
Menyusun Hipotesis berupa pernyataan tentative yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.
7.      Cara merumuskan Hipotesis
Cara merumuskan hipoteis ialah dengan tahapan: Rumuskan Hipotesis penelitian, Hipotesis operasional, dan Hipotesis statistik.
a)      Hipotesis penelitian ialah Hipotesis yang kita buat dan dinyatakan dalam bentuk kalimat.
Contoh:
(1)   Ada hubungan antara gaya kepempininan dengan kinerja pegawai
(2)   Ada hubungan antara promosi dan volume penjualan
b)      Hipotesis operasional ialah mendefinisikan Hipotesis secara operasional variable-variabel yang ada didalamnya agar dapat dioperasionalisasikan.
Contoh:
(1)   “Gaya kepemimpinan” dioperasionalisasikan sebagai cara memberikan instruksi terhadap bawahan.
(2)   Kinerja pegawai dioperasionalisasikan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan.
Hipotesis operasional dijadikan menjadi dua, yaitu Hipotesis 0 yang bersifat netral dan Hipotesis 1 yang bersifat tidak netral Maka bunyi Hipotesisnya: H0: Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan. H1: Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan.
c)      Hipotesis statistik ialah Hipotesis operasional yang diterjemahkan kedalam bentuk angka-angka statistik sesuai dengan alat ukur yang dipilih oleh peneliti.
Contoh: Asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30%, maka Hipotesisnya berbunyi: H0: P = 0,3  0,3H1: P 
8.      Jenis  hipotesis
Bentuk hipotesis tidak dapat dipisahkan dengan jenis riset pada jenis riset deskriptf. Hipotesisnya akan berupa hipotesis deskriptif, pada riset komparatif maka hipotesisnya akan berupa hipotesis komparatif , sedangkan pada riset asosiatif maka hipotesisnya maka hipotesisnya akan berupa hipotesis asosiatif. Hipotesis dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a.       Hipotesis deskriptif
Merupakan jawaban sementara terhadap perumusan masalah deskriptif.
b.      Hipotesis komparatif
Merupakan jawaban sementara terhadap perumusan masalah komparatif.
c.       Hipotesis asosiatif
Merupakan jawaban sementara terhadap perumusan masalah asosiatif.
d.      Hipotesis riset berbeda dengan hipotesis statistic.
Hipotesis riset adalah dugaan sementara yang hendak diuji kebenarannya dalam suatu riset yang menggunakan sampel. Suatu riset dapat memiliki hipotesis riset, tetapi tidak memiliki hipotesis statistic jika riset yang dilakukan tidak menggunakan sampel melainkan meneliti seluruh populasi.

B.     Pertanyaan penelitian
Inti dari suatu penelitian ialah dikarenakan adanya masalah yang perlu diatasi, ada fenomena yang belum diketahui dan penting untuk diketahui. Cara peneliti untuk merumuskan hal tersebut secara jelas ialah dengan membuat pertanyaaan penelitian yang akan di jawab dalam penelitian.
Pertanyaan dalam penelitian merupakan pertanyaan yang efektif, menarik, relevan, harus jelas, dan dapat diteliti. Ciri-ciri merumuskan pertanyaan yang baik yaitu: Aktual,  Adanya paradoks, dan dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Pertanyaan dalam penelitian dapat dibagi dalam dua kategori:
1.      Pertanyaan umum (general research questions)
Pertanyaan umum adalah pertanyaan yang lebih abstrak dan biasanya tidak dapat dijawab secaralangsung (karena sangat umum). Contohnya: Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan minat baca seorang siswa?
2.      Pertanyaan spesifik (specific research questions)
Pertanyaan spesifik adalah pertanyaan yang lebih rinci, lebih khusus dan  jelas. Pertanyaan ini dapat dijawab secara langsung karena secara langsung mengacu pada data-data penelitian yang akan dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Contohnya:
a.       Pertanyaan umum:
Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan minat baca seorang siswa?
b.      Pertanyaan khusus:
1)      Apakah hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan minat baca seorang  siswa?
2)      Apakah tingkat minat baca dipengaruhi oleh tingkat pendapatan orang tua?

C.    Hubungan teori, hipotesis, dan pertanyaan dalam penelitian
Pertanyaan dalam penelitian timbul akibat adanya kerancuan/ketidak sesuaian antara teori dengan fakta. Kemudian dari pertanyaan pertanyan tersebut timbul hipotesis-hipotesis akibat keingin tahuan dan hubungan sebab akibat antara kenapa dan mengapa. Apabila suatu percobaan telah berhasil membuktikan kebenaran hipotesis, Maka hipotesis tersebut kemudian menjadi teori.

























DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakrta : PT. Rineka Cipta
J. Bring, Pamela dan Marilyn J. Wood. 2000. Langkah Dasar Dalam Perencanaan Riset Keperawatan Edisi 4. Jakarta: EGC
Suparmoko, M. 2009. Metode Penelitian Praktis Edisi 4. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta
Yani, Achir S. 1999.  Buku Ajar Riset Keperawatan 1. Jakarta : PT. Widya Medika

Selasa, 01 Oktober 2013

Budaya Manggarai


Budaya Manggarai
RAGAM BUDAYA MANGGARAI

Pada umumnya gambaran masyarakat Manggarai bisa dilihat dari corak maupun ragam budayanya yang tercermin dalam berbagai sistem atau sub-sistem yang berlaku. Beragam sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yang dapat memperlihatkan bagaimana sesungguhnya corak kebudayaan di Manggarai. Sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yaitu sub-sistem religi, sub-sistem organisasi, sub-sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian atau ekonomi, sistem teknologi.

1. Religi
Secara umum, sistem religi asli orang Manggarai adalah monoteis implisit, dengan dasar religinya yakni menyembah Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa (mori jadi dedek – Ema pu’un kuasa), meski masih terdapat cara-cara dan tempat persembahan misalnya, compang (mesbah) juga terkadang di bawah pohon-pohon besar yang dipandang angker dan suci.

Compang (Mesbah)
Yang didirikan di tengah kampung karena menurut kepercayaan orang Manggarai di sana berdiamlah Sang Naga Beo (kekuatan pelindung) yang menjaga ketentraman warga kampung setiap waktu. Compang itu berbentuk bulat maksudnya atau mengandung makna kekerabatan, sehingga dalam upacara adat Manggarai sering diungkapkan kalimat sebagai berikut:

Muku ca pu’u toe woleng curup (kesatuan kata)
Ipung ca tiwu neka woleng wintuk (kesatuan tindakan)
Teu ca ambong neka woleng lako (kesatuan langkah)

Wujud nyata dari prinsip ini nampak dalam kegiatan leles, kokor tago, dan lain-lain. semuanya menekankan persaudaraan, kebersamaan, dan kekeluargaan.
Di dalam masyarakat Manggarai, khususnya berkaitan dengan religius tumbuh dan berkembangnya upacara-upacara adat yang berkaitan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi misalnya :

* Dalam acara penti, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi:
- Lawang morin agu ngaran
Artinya untuk minta pengukuhan dari Tuhan sebagai pemilik atau pemberi atas benih atau tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh manusia. sehingga dalam adat Manggarai, diadakannya pesta penti (syukuran) kepada Tuhan atas pemberiannya itu.

* Dalam upacara kematian, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi :
- Kamping morin agu ngaran

2. Sistem Organisasi Sosial atau Kemasyarakatan
1. Lembaga adat atau tua adat
* Gendang
A. Sejarah berdirinya gendang
Secara etimologis, gendang adalah alat musik tradisional Manggarai sejenis drum. Sedangkan secara esensial, gendang adalah lembaga kekuasaan dari suatu masyarakat hukum adat. Seperti masyarakat hukum adat Gendang Mano, Gendang Alang Mano, Gendang Lame, dan Gendang Bea Laing. Sehingga secara umum Gendang adalah nenek moyang dari masyarakat hukum adat tertentu beserta keturunannya yang berkuasa untuk memerintah seluruh masyarakat hukum adat tertentu dan berkuasa atas wilayahnya.
Dalam hal terbentuknya gendang, walaupun memiliki sejarah tersendiri tetapi melihat struktur lembaga hukum adat yang berlaku sampai sekarang di Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai, maka gendang dibentuk atau diadakan oleh Gelarang yang tugasnya untuk menyelesaikan sengketa tanah atau lingko yang timbul antara gendang dan menentukan serta membagikan lingko-lingko kepada setiap kampung atau gendang.
Cara lain yang membentuk atau mengadakan gendang adalah sebagai akibat memenangkan perang atau menguasai suatu wilayah kosong.
Gendang Mano yang dimaksud dalam penelitian ini dibentuk setelah menguasai suatu wilayah kosong yang telah ratusan tahun ditinggalkan. Wilayah kosong ini ditemukan oleh nenek moyang orang Mano yaitu suku Kuleng. Suku ini kemudian membentuk Gendang’n one lingko’n pe’ang yang berdiri sampai saat ini. Perlu juga diketahui bahwa nenek moyang pertama yang menguasai wilayah Mano adalah Empo Mbak. Empo Mbak ini adalah pelarian atau orang buangan dari suku Minangkabau sebagai akibat perebutan kekuasaan. Dalam legenda orang Manggarai, Empo Mbak ini adalah seorang keturunan raja Minangkabau.
Dalam perkembangannya, karena memiliki lingko yang luas dan banyak maka Gendang Mano memberikan (widang) suatu lingko kepada orang Alang sebagai tanda persaudaraan.
Kemudian terbentuklah gendang’n onen lingkon’n pe’ang, dari Gendang Alang Mano.
Demikian juga dengan Gendang Bea Laing yang disebut dengan Gendang Ase Ka’e (famili, sanak saudara), karena sebenarnya Bea Laing berasal dari suku Pau Ruteng. Atas kebaikan orang Mano mereka lalu diberikan untuk menghuni wilayah Bangka Pau di Mano kemudian pindah ke Mera Mano. Karena perkembangan akhirnya mereka pindah ke Bea Laing untuk menetap, dan melalui perkawinan maka terjadilah hubungan dengan masyarakat Gendang Mano, karena melalui suatu kebijaksanaan maka Gendang Mano memberikan lingko kepada suku Pau Ruteng.
Sedangkan terbentuknya Gendang Lame atau gendang widang (pembagian) adalah gendang pembagian kepada saudari perempuan atau kepada anak mantu.
Maka Gendang Mano membagi lingko untuk mendirikan Gendang Lame. Serta lembaga hukum adatnya yaitu Gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Sehingga hubungan antara Gendang Mano dan ketiga Gendang tersebut sangat erat dan harmonis dan ketiga Gendang yang dibentuk tetap tunduk dan taat kepada Gendang Mano, seperti dalam hal sebagai berikut :
- Ketiga Gendang harus tunduk dan taat kepada perintah dari Gendang Mano dalam hubungan adat istiadat mengenai lingko.
- Apabila ketiga Gendang tersebut membagi moso atau lodok (membagi tanah per keluarga), Gendang Mano harus mendapatkan juga satu bagian sebagai Gendang induk.
- Masyarakat dari kegita Gendang harus hadir apabila dipanggil oleh Tu’a Gendang Mano sehubungan dengan pesta penti.

B. Fungsi, tugas dan struktur organisasi gendang
Pada dasarnya fungsi, tugas dan struktur organisasi gendang yang ada di Manggarai sama.
a. Fungsi organisasi gendang :
- Menegakkan sejarah garis keturunan.
- Mempertahankan kekuasaan gendang.
- Mempersatukan warga gendang.
- Menata kehidupan sosial warga gendang.
- Mempertahankan kepemilikan tanah dan mengatur pembagiannya.
- Membentuk pertahanan yang kuat dalam menghadapi musuh.
b. Tugas organisasi gendang :
- Menjaga dan memelihara kesinambungan keberadaan keturunan gendang.
- Menata ketertiban sosial bagi kehidupan warga gendang.
- Memasukkan kehidupan bersama warga gendang.
c. Struktur organisasi gendang
Sebagai tambahan, saya mulai saja dengan melihat kembali sejarah pemerintahan di Manggarai sejak zaman pemerintahan Goa, Bima dan pemerintahan jajahan Belanda. Sehingga struktur pemerintahan pada jaman itu adalah sebagai berikut :

Gambar 1
Struktur Organisasi Elit Tradisional
Di Kabupaten Manggarai

Membaca dan melihat struktur pemerintahan tersebut jelas terlihat bahwa Raja membentuk dan mengangkat Dalu yang kemudian dinamakan Haminte sampai dengan tahun 1968. Kemudian Dalu membentuk Gelarang yang fungsi dan tugasnya menentukan dan membagi-bagikan Lingko kepada setiap kampung atau gendang serta menyelesaikan sengketa tanah yang timbul antara gendang di setiap kampung atau desa. Keadaan ini berlaku hingga saat ini melalui hukum adat Manggarai, tetapi tidak mutlak untuk membentuk atau mengadakan gendang di setiap kampung.
Keadaan dewasa ini telah menunjukkan bahwa Raja, Dalu dan Gelarang tidak berperan lagi karena organisasinya telah bubar, yang tertinggal hanyalah apa yang dinamakan dengan gendang atau lembaga hukum adat yang disebut dengan gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Mengenai struktur organisasi elit tradisional yang dalam penelitian ini adalah gendang, dapat dilihat pada gambar 2.
Deskripsi jabatan :
1. Tu’a gendang adalah sekelompok orang yang merupakan pendiri gendang dan keturunannya. Sehingga mereka menguasai Beo (kampung) secara keseluruhan yaitu gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Keturunan pendiri gendang berhak untuk menjadi :
- Tu’a Golo
- Tu’a Teno
- Ata lami gendang (keluarga yang menempati rumah niang atau rumah gendang dan menjaga serta memelihara).
- Pelaksana ritus gendang yang menentukan penti (syukuran), oli (upacara musim tanam), wasa (mohon penyuburan), dan paki kaba (persembahan).
Gambar 2
Struktur Organisasi Elit Tradisional
Di Desa Mandosawu


2. Tu’a Golo
Adalah Tu’a yang menguasai golo (kampung)
Pa’ang’n olon, ngaung’n musi (segenap wilayah milik gendang yang bertugas memimpin rakyat gendang, mengontrol dan menertibkan pelaksanaan adat istiadat sebagai pedoman hidup seluruh warga gendang dan memberi sanksi bagi yang melanggar tata tertib gendang.
Yang mengangkat Tu’a Golo adalah Tu’a Gendang. Dia yang diangkat karena turunan pendiri gendang, mempunyai gesah sebagai pemimpin, taat kepada aturan adat istiadat dan tidak banyak cacat cela dalam hal moral.
Tugas Tu’a Golo adalah sebagai pemimpin rakyat gendang dalam hal urusan harian seperti ketertiban warga gendang, menjaga keamanan warga dan kebun warga. Dan persyaratan menjadi Tu’a Golo adalah orang yang bijaksana, mampu menyelesaikan masalah dalam wilayah gendang. Dalam musyawarah gendang, dia adalah pemimpin sidang, khusus di luar kekuasaan Tu’a Teno. Tetapi dia harus taat kepada kebijaksanaan Tu’a Gendang yang merupakan sesepuh-sesepuh agung gendang. Dan perlu diketahui bahwa kedudukan Tu’a Golo dan Tu’a Teno adalah sejajar.
3. Tu’a Teno adalah orang yang berasal dari Tu’a gendang dengan tugas menentukan pembagian tanah yang menjadi hak milik gendang, mengamankan pelaksanaan pembagian tanah dan melaksanakan ritus pembagian. Sedang yang menentukan kepemilikan tanah adalah Tu’a Gendang.
4. Tu’a Panga. Panga (bagian atau cabang) adalah sekelompok orang yang merupakan turunan Tu’a Gendang pada lapisan tertentu yang dipercayakan untuk mengurus diri berdasarkan kebijaksanaan Tu’a Gendang, Tu’a Golo dan Tu’a Teno.
Tu’a Panga adalah pemimpin atau kepala panga. Panga terdiri dari beberapa Ame atau keluarga yang berasal dari satu nenek dalam suku tertentu.
5. Tu’a Ame adalah keturunan Tu’a Gendang sesudah lapisan panga dan dipercayakan untuk mengurus diri. Ame terdiri dari beberapa kilo atau keluarga. Tu’a Ame adalah pemimpin keluarga.
6. Tu’a Kilo adalah yang mengetahui atau menguasai suatu keluarga. Tu’a Kilo adalah pemimpin keluarga yang biasanya disandang oleh bapak.
7. Tu’a Wa’u adalah yang mengepalai keturunan pendatang yang telah berkembang dalam gendang dan menerima pembagian tanah. Pada umumnya mereka memiliki hubungan dengan gendang karena faktor perkawinan. Walaupun mereka merupakan keturunan pendatang, namun tetap taat pada tata tertib dan peraturan gendang yang dihuni.
8. Tu’a Wae Tu’a yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang tertua dari gendang tersebut. Biasa disebut dengan wae ka’e atau keturunan tertua.
9. Tu’a Wae Koe yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang termuda dalam gendang. Biasa disebut dengan wae ase atau keturunan termuda.
C. Ruang Lingkup Wilayah Gendang
Wilayah kekuasaan gendang adalah suatu wilayah tertentu dari sebuah kampung atau desa yang terdiri dari beberapa lingko atau tanah dan setiap lingko mempunyai tanah sendiri. Wilayah kekuasaan ini nampak dalam sebutan gendang’n onen atau beon one, lingko’n pe’ang.
Gendang’n one yang dimaksud adalah segenap warga gendang sedangkan lingko’n pe’ang adalah wilayah yang merupakan tanah (lingko) milik gendang.
* Kekerabatan atau Keluarga Perkawinan
(Menyangkut Anak Wina – Anak Rona)
- Sistem perkawinan menurut adat Manggarai
Menurut adat Manggarai, ada tiga cara atau sistem perkawinan yaitu :
a. Cangkang
Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku. Dalam bahasa adanya dikatakan laki pe’ang atau wai pe’ang (anak wanita yang kawin di luar suku). Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur hubungan baru dengan suku-suku lain. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan hubungan woe nelu-nya. Dari praktek orang tua tempo dulu, orang yang laki pe’ang bukan sembarang orang. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis atau paca. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan, tetapi terutama soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak, antara keluarga pria dan wanita.
b. Tungku
Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu, hubungan anak rona dengan anak wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang. Laki-laiki dan wanita yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one.
Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku, juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya.
Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one. Berbicara tentang paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku.
Menurut adat Manggarai ada beberapa jenis tungku :
- Tungku cu atau tungku dungka
Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara itu atau om.
- Tungku nereng nara
- Tungku anak de due
- Tungku canggot
- Tungku ulu atau tungku sa’i
- Tungku salang manga
- Tungku dondot
c. Cako
Perkawinan dalam suku sendiri. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau. Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Mengapa dikatakan mencoba? Karena menurut adat Manggarai, tidak semua perkawinan cako direstui mori agu ngaran. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang menentukan apakan perkawinan itu direstui atau tidak. Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui, bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak.
Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki.

* Arti anak wina dan anak rona
Dalam konteks sosial budaya Manggarai yang disebut anak rona berasal dari keturunan pria atau yang disebut ata one. Sedangkan anak wina berasal dari keturunan anak perempuan atau yang disebut ata pe’ang.
Anak wina – anak rona muncul karena hubungan perkawinan, di mana pihak pria disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona.

3. Ilmu Pengetahuan
Sejak dulu, orang Manggarai memiliki pengetahuan tentang alam sekitarnya, baik fauna maupun flora dengan seluruh ekosistemnya. Sistem dan pola hidup masyarakat Manggarai yang agraris mengharuskan mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang flora, tentang tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Begitupun pengetahuan tentang fauna dimiliki secara turun temurun karena orang Manggarai pada dasarnya senang beternak dan berburu.

4. Bahasa
Mengutip hasil penelitian Pastor P.J. Verheijen, SVD yang dilakukannya sebelum 1950 menyebutkan bahwa di Manggarai terdapat enam bahasa, yaitu bahasa Komodo di pulau Komodo, bahasa Werana di Manggarai Tenggara, bahasa Rembong di Rembong yang wilayahnya meluas ke Ngada Utara, bahasa Kempo di wilayah Kempo, bahasa Rajong di wilayah Rajong dan bahasa Manggarai Kuku yang termasuk atas lima kelompok dialeg, termasuk bahasa Manggarai Timur Jauh.
Pengelompokkan bahasa tersebut sekaligus mengisyaratkan secara umum kelompok budaya di Manggarai yang erat kaitannya dengan corak kesatuan genealogis, sebab kesatuan genealogis yang lebih besar di Manggarai adalah Wa’u (klen patrilineal) dan perkawinan pun patrilokal. Dalam kesatuan genealogis inilah bahasa terpelihara baik secara turun temurun.

5. Kesenian
Di Manggarai juga tumbuh dan berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini seperti seni sastra, musik, tari, lukis, disain dan kriya. Dari berbagai jenis kesenian itu, ada dua jenis yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan sudah dikenal luas, yakni seni pertunjukan caci dan seni rupa (kriya), songke.
Caci sudah merupakan puncak kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna: seni gerak (lomes), nilai etika (sopan santun), nilai estektika, muatan nilai persatuan, ekspresi suka cita, nilai sportifitas, serta penanaman percaya diri.
Beberapa macam kesenian di Manggarai :
- Seni Musik
* Alat-alat musi tradisional : sunding, gong, gendang, tambor, tinding.
- Seni Tenun
* Tenun Songke
Seni kriya songke sarat dengan nilai dan simbol. Warna dasar hitam pada songke melambangkan sebuah arti kebesaran dan keagungan orang Manggarai serta kepasrahan bahwa semua manusia akhirnya akan kembali pada Yang Maha Kuasa. Sedangkan aneka motif bunga pada kain songke mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti motif wela kawong bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya.
Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras. Motif ju’i (garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa porong langkas haeng ntala, supaya senantiasa tinggi sampai bintang.
Maksudnya, agar senantiasa sehat, umur panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.
Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan sikap atau ethos bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini.
- Seni Sastra
Cerita-cerita rakyat.
- Seni Tari
* Ronda
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCkGzxNrrUG_xjWUvb5eKxb0CCM6BpI-Bxy_78XrU5WLRpCiQMggdJblvMv-WIgh7FrOWY73pCunGxK3Bgwy31DKYWP0_7n1isCCqHXaV7_RSVNx-c4ngwjg9I_Gmnca-BSIUsq_gainPs/s320/IMG_4823.JPG


Ronda adalah sebuah nyanyian yang dipakai sebagai nyanyian perarakan, misalnya menjemput tamu baru.

* Sae
Sebuah tarian adat Manggarai untuk memeriahkan sebuah pesta. Misalnya dalam upacara adat masyarakat yaitu upacara paki kaba dalam rangka congko lokap atau menempatkan kampung baru.
* Sanda
Sebuah nyanyian, yang dinyanyikan oleh banyak orang dalam bentuk lingkaran. Sanda sering dipakai dalam upacara menjelang pesta penti dan pesta adat lainnya.
* Danding
* Wera

6. Sistem Mata Pencaharian atau Ekonomi
Aktivitas perekonomian atau mata pencaharian sudah sangat lama dikenal dalam masyarakat Manggarai. Bahkan sepanjang usia peradaban yang dimilikinya, seusia itu pula pengenalan masyarakat setempat terhadap kegiatan mencari nafkah, berdagang atau bermata pencaharian.
Dalam bidang pertanian, sudah sangat lama dikenal pola perkebunan yang disebut oleh masyarakat setempat dengan lingko (kebun komunal atau sistem pembagian tanah pertanian yang disebut lodok).
Sama seperti halnya sub-sistem sosial yang lain, sub-sistem ekonomi dan mata pencaharian orang Manggarai senantiasa melekat dengan nuansa-nuansa religi. Pesta kebun adalah acara syukuran kepada mori jari dedek dan arwah nenek moyang atas hasil padi dan jagung yang diperoleh. Begitu pula upacara penanaman benih atau upacara silih yang dilakukan agar kebun atau ladang terhindarkan dari berbagai hama penyakit yang mengganggu tanaman.
Seperti diketahui, masyarakat Manggarai pada umumnya adalah masyarakat agraris. Secara turun temurun dua jenis tanaman andalan masyarakat adalah padi dan jagung. Bahwa kemudian kopi mendapat tempat sebagai komoditas yang akrab dengan orang Manggarai.
Sejak tahun 1938, pembukaan sawah dengan sistem irigasi sudah dikenal di Manggarai. Semula sistem irigasi persawahan ini kurang diminati masyarakat karena terasa asing. Tapi, setelah melihat hasil pekerjaan orang yang mengerjakan jauh lebih baik dan menjanjikan, maka sistem irigasi pun secara berangsur-angsur mulai ditiru dan kemudian malah menjadi kegiatan primadona.
Di samping mengerjakan sawah, berladang dan menanam kopi orang Manggarai juga terkenal handal dalam beternak kerbau, sapi, kuda, babi, anjing, ayam, serta melaut.

7. Teknologi
Masyarakat Manggarai di masa lalu sudah mengenal bahkan mampu menghasilkan peralatan atau perkakas yang dibutuhkan untuk kehidupannya.
Secara tradisional, mereka sudah dapat membangun rumah.
Dalam hal pembuatan rumah, misalnya di Manggarai dikenal lima tahapan yang sekaligus menggambarkan konstruksi segi lima. Konstruksi segi lima ini berkaitan dengan latar belakang filosofis dan sosiologis. Angka ini memang dipandang sebagai angka keramat karena secara kausalistis dihubungkan dengan rempa lima (lima jari kaki), mosa lima (lima jari dalam ukuran pembagian kebun komunal), sanda lima, wase lima, lampek lima.
Untuk pakaian, orang Manggarai sebelum mereka mengenal tenun ikat, bahan pakaiannya terbuat dari kulit kayu cale (sejenis sukun).
Sementara untuk perhiasan sebelum mereka mengenal logam, perhiasan mereka umumnya terbuat dari tempurung kelapa, kayu atau akar bahar.
Begitupun teknologi pembuatan minuman tradisional juga sudah dikenal cama di masyarakat Manggarai, yakni proses pembuatan atau mencampur air enau dengan kulit damer sehingga menghasilkan alkohol berkadar tinggi seperti arak atau tuak.
Masyarakat Manggarai sejak dulu juga sudah mengenal cara pembuatan obat-obatan yang berasal dari daun-daunan, misalnya londek jembu yaitu pucuk daun jambu untuk mengobati sakit perut, kayu sita, untuk pengombatan disentri.
Sebelum mengenal logam, untuk alat-alat pertanian, masyarakat Manggarai sudah mengenal perkakas dari bambu, kayu atau tanah liat untuk mengolah tanah pertanian. Sementara alat perburuan yang dikenal yakni bambu runcing, lidi enau, tali ijuk.


Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.